Karena Engkau Madrasah yang Pertama

Bayangkan jika kita diberi Allah umur panjang. Ketika itu usia kita sudah senja. Mata kita mulai rabun, tulang kita mulai rapuh, tubuh kita sudah tak bisa berjalan dengan leluasa. Kala itu, siapa yang akan mengurus kita? Anak-anak yang mencintai kita atau pembantu kita?

Bayangkan saat kita dijemput oleh malaikat maut. Ketika itu jasad kita dimasukkan ke dalam liang kubur. Selanjutnya kita akan mengalami rangkaian peristiwa yang begitu dahsyat. Doa siapa yang kita butuhkan? Tentu doa permohonan ampun dari anak-anak kita bukan? Apakah mereka kelak menjadi anak yang sholeh dan senantiasa mendoakan kita?

Bukankah anak-anak yang sholeh dan sholehah adalah investasi terbaik untuk bekal kita kelak di akhirat? Apakah jiwa kita tak tergerak dengan banyaknya karunia pahala yang akan kita dapatkan jika anak-anak kita banyak berbuat amal sholeh dan bermanfaat untuk sekitarnya, dan amal itu karena hasil didikan kita?

“Jika seseorng meninggal dunia maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan doa anak yang sholeh.” (HR. Muslim)

Bersabarlah dan teruslah berbaik sangka kepada Allah dalam mendidik anak kita. Mungkin, kita akan sering merasa lelah akibat tangisan anak kita, akibat rewelnya mereka, akibat berseraknya makanan dan mainan mereka. Mungkin, kita akan merasa letih saat mengajarinya membaca, menulis, mengaji, dan sholat. Karena tentu saja proses mengajari mereka tak selalu berjalan mudah. Bisa jadi sesekali ada ulah dan permintaan mereka yang menganggu konsentrasi kita. Mungkin kita akan merasa capai karena harus terjaga di malam hari untuk mengurusi anak yang mau ke toilet atau menjaga seharian mereka yang sedang sakit.

Teman, sesulit apa pun kondisi kita dalam merawat dan mendidik anak, bersabarlah. Karena sesuangguhnya besarnya kesulitan akan mendatangkan besarnya pahala kebaikan dan keberkahan jika kita bersabar dengannya. Karenanya, tetaplah bersyukur. Ingatlah pernikahan yang telah melahirkan anak-anak penyejuk hati kita. Karena, betapa banyak saudari yang seumuran kita belum juga dipertemukan dengan pasangan hidupnya. Karena, betapa banyak pasangan yang sudah bertahun-tahun menikah, hari terus berganti, mereka masih terus menanti buah hati untuk memeriahkan rumah tangganya. Bersabar dan bersyukurlah.

Selanjutnya, yang tak kalah penting adalah menguasai apa yang akan kita ajarkan kepada mereka. Pelajarilah dan dalamilah lagi ilmu tentang pendidikan anak. Pelajari lagi tentang ibadah. Pelajari lagi tentang akhlak. Pelajari lagi tentang muamalah. Pelajari lagi tentang segala hal yang bisa membantumu mendidik dan mengembangkan kemampuan terbaik anakmu.

Tak kalah penting dari itu, kita harus menyadari bahwa pendidikan terbaik adalah lewat keteladanan. Jadilah contoh yang baik bagi anak-anak. Jagalah sholat lima waktu, pakailah pakaian yang sesuai petunjuk agama, berusahalah untuk berakhlak mulia dimana saja, jaga lisan dari dusta, perkataan keji, dan tak berguna. Jaga makanan mereka agar hanya yang halal dan baik yang masuk ke dalam perutnya.

Jadilah ibu yang sholehah, agar anak-anak tumbuh menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Jadilah ibu yang ikhlas dan tak mudah berkeluh kesah, agar anak-anak kelak menjadi orang-orang yang ikhlas. Jadilah ibu yang rajin bersedekah, agar anak-anak kelak menjadi orang yang gemar membantu orang yang miskin dan kesusahan.

Terakhir, jangan lupa berdoa. Karena doa seorang ibu adalah doa yang mustajab. Terkait pentingnya doa untuk anak-anak ini, mari kita renungkan kisah ini.

Suatu ketika seorang sahabat berkunjung ke rumah kerabat dekatnya. Kerabat dekatnya ini adalah orang yang dipandang biasa-biasa saja dari segi agama. Namun, ketika datang waktu sholah, anak-anaknya segera melaksanakan sholat tanpa diperintah.

“Bagaimana anak-anakmu bisa sholat dengan kesadaran sendiri, tanpa kesulitan bahkan tanpa perlu diingatkan?” ujarku.

“Jauh hari sebelum menikah aku selalu memanjatkan doa ini. Dan, sampai saat ini pun aku masih tetap berdoa dengan doa tersebut,” jawabnya, sebelum kemudian membacakan sebuah doa.

Setelah mendengarkan nasihatnya, aku tanpa henti berdoa dengan doa itu, dalam sujudku dan sesaat sebelum salam, ketika witir di penghujung malam, dan di setiap waktu-waktu mustajab.

Demi Allah, saudara-saudaraku, anakku saat ini telah duduk di bangku SMA. Sejak aku mulai berdoa itu, anakku yang rajin membangunkan kami dan mengingatkan kami untuk sholat. Begitu pula adik-adiknya. Alhamdulillah, mereka semua selalu menjaga sholat.

Sampai-sampai saat ibuku berkunjung dan menginap di rumah kami, ia tercengang melihat anak perempuanku yang bangun pagi, kemudian membangunkan kami satu-persatu untuk sholat.

Aku tahu Anda semua penasaran ingin mengetahui doa itu. Ya, doa itu ada di dalam Al-Qur’an. Tepatnya surat Ibrahim ayat ke 40. Doa itu berbunyi,

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak-cucuku orang-orang yang senantiasa mendirikan sholat. Wahai Tuhan kami, perkenankanlah doa kami.”

Ya, doa, doa, dan doa. Semoga para pembaca, baik yang kini sudah menjadi ibu dan yang akan menjadi ibu, diberikan kesabaran, rasa syukur, ilmu yang bermanfaat, dan hati yang senantiasa ikhlas dalam mendidik anak-anak.

Semoga para ibu dan calon ibu diberi anugerah anak yang sholeh dan sholehah, penyejuk mata, penenang hati, yang lewat doa-doanya kelak dapat meringankan beban mereka di akhirat. Allahumma Aamiin….

Sumber: Arasy Cinta, @teladanrasul

Terima kasih Mama Eroh, love you….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s