Cerita di balik Cerita (Part 3)

Sebuah tulisan di FB yang mengelitiku dan membuatku ingin menuliskannya kembali di blog ini. Aku juga teringat pesan Mama Eroh, “kalau Dede menikah, sayangi orang tua suami kita sama seperti kita menyayangi orang tua sendiri”.

=============

Seburuk apapun mertua…aku selalu ingat bahwa…

Beliau…adalah wanita yang mngandung suamiku dalam kepayahan selama 9 bulan…
Beliau…adalah wanita yang air susunya menjadi makanan pertama bagi suamiku…
Beliau…ialah wanita yang mendidik dan membesarkan suamiku, yang mengajarkan kepada suamiku akhlaq sehingga aku nyaman di sisi suamiku.

Aku…ga pernah keluar uang sepeserpun untuk nyekolahin suamiku…hingga ia mendapatkan ijazah, yang sekarang ijazah itu ia gunakan untuk mencari nafkah…untuk menafkahi aku.

Aku…ga sedikitpun mendidik suamiku hingga kini ia jadi pria yang penuh tanggungjawab…dan aku merasakan bahagia menjadi istrinya.

Setelah pengorbanannya yang bertubi tubi…anak laki lakinya menikah denganku…beliau bagi kasih sayang anaknya denganku.

Cemburu? Pasti beliau cemburu…aku wanita asing, yang kini selalu disayang-sayang oleh anak laki lakinya.
Harta anak laki-lakinya tercurah untuk kunikmati…padahal beliau yang melahirkan, membesarkan dan mendidik.
Aku memahami cemburu itu…walau aku pun merasakan cemburu ketika suamiku lebih memihak mertuaku.
Aku bukan malaikat yang ga pernah jengkel dengan mertuaku dan mertuaku pun bukan malaikat yang selalu kubela.
Adakalanya aku marah..cemburu dan sakit hati,,
Namun aku ingat semua jasanya pada suamiku…jasa yang sampai akhir hayatpun aku ngga akan mampu membayarnya.

Pada ujung tangisku…terngiang nasehat ibundaku tercinta…
“Nak…dukunglah suamimu untuk berbakti pada ibunya…jangan suruh ia memilih antara kau dan ibunya.
Karena…kelak kau akan merasakan bagaimana sakitnya diperlakukan seperti itu oleh anak laki lakimu.
Apa yang kau lakukan pada mertuamu…akan dilakukan pula oleh menantumu…segala sesuatu pasti ada timbal baliknya”.

Dan tangisku makin deras…
Oh suamiku…bahagiakanlah orang tuamu semampumu…
Semoga kelak anak-anak kita pun membahagiakan kita, sebagai balasan baktimu pada orang tuamu.
Mumpung mereka masih hidup…belum tentu pula mereka masih bisa bersama kita 10 tahun ke depan.
Tak lama…tapi balasannya adalah syurga.

==================

“Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyaatinaa qurrata a’yuniw waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s