Semakin Aku Belajar, Semakin Aku Tak Tahu…

Semakin banyak hal yang aku pelajari, justru aku merasakan semakin banyak hal yang belum aku ketahui!

Saat membuat postingan, kadang saya merasakan sudah cukup bagus tulisan saya. Tapi setiap kali saya membuka postingan teman-teman yang lain, saya merasa kecil dan masih banyak kekurangan dan harus belajar kembali kembali. Ternyata apa yang saya tulis tidak ada apa-apanya. Lebih banyak yang jauh lebih bagus lagi, baik tulisan maupun idenya.
Continue reading

Sosok Pahlawan

Setiap orang akan mempunyai sosok pahlawan dalam hidupnya. Begitu juga perempuan ini. Seorang perempuan di saat teman-teman sekolah dasarnya sudah lancar membaca, dia berbeda….Apa yang membuatnya berbeda? Ternyata dia perlu ekstra lebih keras untuk belajar membaca dan mengucapkannya.

Dia ingat saat kecil sering mengucapkan “nangka”…nangkanya itu…loch kok tiba-tiba nangka, ternyata maksudnya “makanya” itu. Hahaha, jauh yaah. Kesalahan pengucapannya sampai sekarang pun kadang sering terjadi. Tak jarang menimbulkan tawa. Dan kadang dianggap sengaja.

Tetapi sosok pahlawan ini, yang dengan sabarnya di saat kecil mengajarkan, memotivasi, membimbing untuk mengembangkan bakatnya dan meningkatkan kepercayaan dirinya. Sosok pahlawan ini yang memasukkannya ke klub renang, sanggar tari, les musik, les bahasa. Walaupun harus dibayar dengan kerja keras mencari karena tak sedikit biaya yang harus dikeluarkannya. Beliau tak pernah mengeluh. Beliau juga dengan sabarnya melatih perempuan ini membaca, melatihnya bercerita, mendengarkan ceritanya dengan seksama.

Perlahan dan sampai sekarang perempuan ini menyukai dunia jurnalistik khususnya menulis dan bercerita. Terima kasih Mama Eroh. Your are my hero. Positifnya hal itu membuat aku ingin terus belajar, memperbaiki diri, dan berpikir untuk tidak menyombongkan diri karena setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Sekali lagi terima kasih Mama Eroh dan Bapak Muchtar. Love you….Syafakillah Mama Eroh, semoga kesehatannya terus membaik…Allahumma Aamiin.
photogrid_1477313331445
Ya Allah, ijinkan Dede menjadi anak sholehah untuk Mama & Bapak, ijinkan kami berkumpul kembali di surga-Mu Ya Allah.

Kemarin aku bertemu dengan seorang Bapak, termasuk 500 blogger pertama di Indonesia. Ternyata Bapak ini juga merupakan tim personal brandingnya Kakek Jamil, salah satu trainer dan motivator yang aku suka. Kakel Jamil memotivasi aku untuk terus menulis. Beliau setiap harinya tak pernah berhenti menulis.

Selamat hari pahlawan juga untuk pahlawan kemerdekaan RI, pahlawan pendidikan (guru-guru dan dosen kami), pahlawan kesehatan (tim medis), pahlawan syiar Islam (Nabi Muhammad SAW, keluarga dan sahabat-sahabat Rasulullah, para Ustad, para Ulama), pahlawan keluarga, dan pahlawanku (my lovely parents)….terima kasih atas perjuangan dan pengorbanan kalian….sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat De, insyaAllah menjadi pahlawan untuk keluarga dan sekeliling…Aamiin Ya Allah.

[Kisah] Kun Fayakun

“Lik, kalau besuk kamu nggak bisa melunasi utangmu, lebih baik kamu mengosongi rumah ini. Atau, aku yang akan mengosongi rumahmu ini” ancam rentenir, Ahad pagi itu. Dunia makin terasa sempit bagi Malik. Sudah tiga tahun ini ia bergelut dengan masalahnya, namun tak juga ia sanggup mengatasi masalah-masalah yang membelitnya, termasuk hutang tersebut. Malik sudah berusaha mencari pinjaman, tapi hasilnya nihil. Kurang dari 24 jam lagi rumah satu-satunya itu akan disita.

Setelah si rentenir pergi, datanglah tamu kedua yang tidak lain adalah istrinya sendiri. Sudah 2 tahun suami istri itu pisah ranjang.
Continue reading

The Power of DOA

#ORMenjawab Pertanyaan #7 dari Iefha Riyadhi:
Kenapa Tuhan tidak mengabulkan doa? Dan kenapa masih saja Dia memberikan ujian?


Bersyukurlah bagi kau yang masih menanti-nanti, menerka-nerka kapan doa yang kau panjatkan akan dikabulkan Allah. Karena sesungguhnya ada yang harus lebih dikuatirkan dari itu, yaitu ketika kau sudah tak punya hasrat lagi untuk berdoa. Mau mengutarakan doa ketika malam, mata tak mengizinkan. Mau merayu Tuhan ketika subuh telah datang, selimut masih menghangatkan. Mau berdoa ketika waktu duha, pekerjaan membebani. Mau berdoa ketika selesai solat wajib, dunia selalu mengejar. Urusan dunia, perilaku dosa, dan kesombongan telah menutupi otak agar tak mampu membuat permintaan, membekukan lidah agar tak dapat merangkai kata, dan memberatkan tangan untuk bermunajat. Tak indah… Sungguh tak indah.
Continue reading